Thursday, December 19, 2024

■■■■■■■■■■■■■■■■■

PENYAKIT HATI

BAHAYA YANG TIDAK DISEDARI

(Siri 591)

■■■■■■■■■■■■■■■■■


بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲ الرَّحْمَنِ الرحيم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Dosa besar 69:

Tafsir Al-Qur'an dengan

pendapat aqal, nafsu

.... sambungan.....



sambungan Tafsir Ibn Kathir Radhiallahu Anhu:

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Turmuzi melalui Bandar, dari Abu Daud At-Tayalisi, dari Yazid ibnu Ibrahim dengan lafaz yang sama.  Imam Turmuzi mengatakan bahawa hadis ini hasan sahih.  Imam Turmuzi menuturkan bahawa Yazid ibnu Ibrahim At-Tusturi sendirilah yang menyebut Al-Qasim dalam sanad ini, sedangkan menurut yang lainnya yang bukan hanya seorang meriwayatkannya dari Ibnu Abu Mulaikah langsung dari Siti Aisyah, tanpa menyebut Al-Qasim.  Demikian komentar Imam Turmuzi.


Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Walid At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Ibrahim At-Tusturi dan Hammad ibnu Abu Mulaikah, dari Al-Qasim ibnu Muhammad, dari Siti Aisyah Radhiallahu anha yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai makna firman-Nya: "Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya. [Aali Imran (3) : Ayat 7], maka Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabda Baginda:

«إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ، فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ»

Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti hal-hal yang mutasyabih dari Al-Qur'an, maka mereka itulah orang-orang yang disebutkan oleh Allah (dalam ayat ini); maka hati-hatilah kamu terhadap mereka (jangan sampai kamu terperangkap ke dalam kesesatan mereka).


Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Muslim, dari Hammad ibnu Salamah, dari Abdur Rahman ibnul Qasim, dari ayahnya, dari Siti Aisyah Radhiallahu anha yang menceritakan bahawa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai ayat ini, iaitu firman-Nya: maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya untuk menimbulkan fitnah.  [Aali Imran (3) : Ayat 7]

Kemudian Baginda ﷺ bersabda:

«قَدْ حَذَّرَكُمُ اللَّهُ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمْ فَاعْرِفُوهُمْ»

Allah telah memperingatkan kamu, maka apabila kamu melihat mereka, waspadalah kalian terhadap mereka (jangan sampai terikut dengan pegangan sesat mereka).


Hadith ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Murdawaih melalui jalur yang lain, dari Al-Qasim, dari Siti Aisyah dengan lafaz yang sama.


قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ أَبِي غَالِبٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا أُمَامَةَ يُحَدِّثُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في قوله: {فَأَمَّاالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ} قَالَ: "هُمُ الْخَوَارِجُ"، وَفِي قَوْلِهِ: {يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ} . [آلِ عِمْرَانَ: 106] قَالَ: "هُمُ الْخَوَارِجُ".


Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kamil, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Abu Galib yang mengatakan bahawa ia pernah mendengar Abu Umamah menceritakan hadith berikut dari Nabi ﷺ sehubungan dengan firman-Nya :  Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya. [Aali-Imran (3) : Ayat 7] bahwa mereka adalah golongan Khawarij.


 Juga firman-Nya: 

يَوۡمَ تَبۡيَضُّ وُجُوهٌ۬ وَتَسۡوَدُّ وُجُوهٌ۬‌ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱسۡوَدَّتۡ وُجُوهُهُمۡ أَكَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَـٰنِكُمۡ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ

Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram.

[Ali Imran (3) : Ayat 106]. 

Mereka (yang mukanya menjadi hitam muram) adalah golongan Khawarij (Wahhabiyyah, Najdiyyah, Kaum muda dan beberapa nama lain pada zaman ini).

[Tamat Nukilan kitab Tafsir Ibn Kathir]


Bersambung siri 592  اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ

=======================

MAJLIS TAZKIRAH JILANI

    🌳🍁🕌🕌🕌🍁🌳

■■■■■■■■■■■■■■■■■

PENYAKIT HATI

BAHAYA YANG TIDAK DISEDARI

(Siri 590)

■■■■■■■■■■■■■■■■■


بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲ الرَّحْمَنِ الرحيم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Dosa besar 69:

Tafsir Al-Qur'an dengan

pendapat aqal, nafsu

.... sambungan.....



Berkata Imam Ibnu Kathir Radhiallahu anhu:

"Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Ya'qub, dari Abdullah Ibnu Abu Mulaikah, dari Siti Aisyah Radhiallahu anha yang mengatakan bahawa Rasulullah ﷺ  membacakan firman Allah:


هُوَ ٱلَّذِيۤ أَنزَلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَاءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ ٱللَّهُ وَٱلرَّاسِخُونَ فِي ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ ٱلأَلْبَابِ 

[Aali-Imran (3) : Ayat 7]


Sampai dengan firman-Nya: "Orang-orang yang beraqal"

lalu Baginda bersabda:

"Apabila kamu melihat orang-orang yang berbantah-bantahan mengenainya (ayat mutasyabihat bertujuan menyesatkan manusia), maka merekalah orang-orang yang dimaksudkan oleh Allah (jadi sesat).  Maka hati-hatilah kamu terhadap mereka (jangan sampai terjatuh ke dalam golongan tersebut)."


Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Majah melalui jalur Ismail ibnu Ulayyah dan Abdul Wahhab As-Saqafi, keduanya dari Ayyub dengan lafaz yang sama. 


Muhammad ibnu Yahya Al-Abdi meriwayatkan pula di dalam kitab musnadnya melalui Abdul Wahhab As-Saqafi dengan lafaz yang sama. 


Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Abdur Razzaq, dari Ma'mar, dari Ayyub.  Hal yang sama diriwayatkan pula oleh bukan hanya seorang, dari Ayyub.  Ibnu Hibban meriwayatkan pula di dalam kitab sahihnya melalui hadis Ayyub dengan lafaz yang sama.


Abu Bakar ibnul Munzir meriwayatkannya di dalam kitab tafsirnya melalui dua jalur, iaitu dari Abu Nu'man, Muhammad ibnul Fadl As-Sudusi yang laqab-nya (julukannya) adalah Arim, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Siti Aisyah dengan lafaz yang sama.  Ayyub (iaitu Abu Amir Al-Kharraz) dan lain-lainnya mengikutinya, dari Ibnu Abu Mulaikah; lalu Imam Turmuzi meriwayatkannya dari Bandar, dari Abu Daud At-Tayalisi, dari Abu Amir Al-Kharraz, kemudian ia menuturkan hadith ini.


Sa'id ibnu Mansur meriwayatkannya pula di dalam kitab sunnahnya, dari Hammad ibnu Yahya, dari Abdullah ibnu Abu Mulaikah, dari Aisyah. 


Ibnu Jarir meriwayatkannya pula melalui hadith Rauh ibnul Qasim dan Nafi' ibnu Umar Al-Jumahi; keduanya dari Ibnu Abu Mulaikah, dari Aisyah.  Nafi' mengatakan dalam riwayatnya dari Ibnu Abu Mulaikah, bahwa Siti Aisyah pernah menceritakan kepadaku, lalu ia (Ibnu Abu Mulaikah) menuturkan hadith ini.


Imam Bukhari meriwayatkan pula hadith ini dalam tafsir ayat ini, sedangkan Imam Muslim meriwayatkannya di dalam Kitabul Qadar dari kitab sahihnya, dan Abu Daud di dalam kitab sunnahnya; ketiganya meriwayatkan hadith ini dari Al-Aqnabi, dari Yazid ibnu Ibrahim At-Tusturi dari Ibnu Abu Mulaikah dari Al-Qasim ibnu Muhammad dari Siti Aisyah Radhiallahu anha  yang menceritakan bahawa Rasulullah  ﷺ  membaca ayat berikut, iaitu firman-Nya: "Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepada kamu.  Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat [Aali Imran (3) : Ayat 7] sampai dengan firman-Nya:  "Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang beraqal". 


Siti Aisyah Radhiallahu anha melanjutkan kisahnya, bahawa setelah itu Rasulullah  ﷺ bersabda:

«فَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ»

Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti hal-hal yang mutasyabih darinya, maka mereka itulah orang-orang yang disebutkan oleh Allah; maka hati-hatilah kalian terhadap mereka.  Demikianlah menurut lafaz Imam Bukhari.


Bersambung siri 591  اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ

=======================

MAJLIS TAZKIRAH JILANI

    🌳🍁🕌🕌🕌🍁🌳

■■■■■■■■■■■■■■■■■

PENYAKIT HATI

BAHAYA YANG TIDAK DISEDARI

(Siri 589)

■■■■■■■■■■■■■■■■■


بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲ الرَّحْمَنِ الرحيم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Dosa besar 69:

Tafsir Al-Qur'an dengan

pendapat aqal, nafsu

.... sambungan.....



Berkata Imam Qurtubi Radhiallahu anhu:

"Imam Muslim meriwayatkan Hadith dari Aisyah Radhiallahu anha, bahawa Rasulullah ﷺ pernah membaca ayat :

هُوَ ٱلَّذِيۤ أَنزَلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَاءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ ٱللَّهُ وَٱلرَّاسِخُونَ فِي ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ ٱلأَلْبَابِ 


kemudian Baginda bersabda,

"Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat, maka mereka itulah yang dimaksud oleh Allah dengan orang-orang sesat, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka."


Abu Ghalib bercerita : Aku pernah melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, bersama  Abu Umamah yang mengenderai seekor keledai miliknya.  Lalu sampailah kami di Masjid Damaskus untuk berehat, namum ketika kami sedang duduk-duduk di tangga Masjid, kami melihat beberapa kepala terpenggal yang terpancang di sisi Masjid.  Kemudian Abu Umamah bertanya kepada orang-orang di sana: "Kepala-kepala siapakah ini?"  Ini adalah kepala-kepala kaum Khawarij yang didatangkan dari Iraq".   Lalu berkata Abu Umamah: "Merekalah yang akan menyerupai anjing-anjing di Neraka (beliau mengucapnya sebanyak tiga kali). Kesejahteraan moga terlimpah kepada orang-orang yang membunuh mereka. (beliau ulang sampai tiga kali).


Kemudian tiba-tiba Abu Umamah menangis.  Aku pun bertanya kepadanya: "wahai Abu Umamah, apa yang menyebabkan engkau menangis?  Beliau menjawab, "Aku sangat menyayangkan kejadian ini.  Mereka (khawarij) dahulu adalah orang Islam dan mengikuti ajaran Islam, namun mereka keluar dari Agama dan Ajaran Islam.  Lalu beliau membaca ayat ini:

هُوَ ٱلَّذِيۤ أَنزَلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَاءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ ٱللَّهُ وَٱلرَّاسِخُونَ فِي ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ ٱلأَلْبَابِ 


kemudian beliau juga membaca ayat: 

 وَلاَ تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَٱخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَـٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

[Aali Imran (3) : Ayat 105]


Kemudian aku bertanya, "Apakah mereka yang dimaksudkan di dalam ayat ini? Beliau menjawab "Ye benar".  Lalu aku bertanya lagi, "Apakah engkau katakan ini pendapat engkau sendiri atau engkau mendengarnya dari Rasulullah ﷺ sendiri?  Maka beliau menjawab, "Jika ini pendapatku sendiri, maka aku sudah terlalu berani, sedang aku tidak seberani itu.  Aku mendengar dari Rasulullah ﷺ bukan hanya sekali, atau dua kali atau tiga kali atau empat kali atau lima kali atau enam kali atau tujuh kali..."  Lalu Abu Umamah menutup telinganya dengan jari-jarinya dan ia menegaskan, "Apabila ini hanya pendapatku maka lebih baik aku diam saja. (beliau ulangi tiga kali). Kemudian beliau meriwayatkan, 

"Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Bani Israil terpecah kepada tujuh puluh satu kelompok, satu saja masuk Syurga sedang yang lain masuk neraka.  Adapun ummat ini bertambah satu lagi dibandingkan mereka.  Satu kelompok darinya masuk Syurga sedangkan yang lain masuk Neraka."

[Tafsir Qurtubi]


Catitan:

Dari Penjelasan Imam Qurtubi :

Golongan yang menta'wil ayat mutasyaabihaat menurut nafsu mereka dan bisikan syaitan adalah golongan Khawarij, iaitu pada zaman ini bergelar Golongan Wahhabiyyah, Najdiyyah, kaum muda dan beberapa nama lain. 


Bersambung siri 590  اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ

=======================

MAJLIS TAZKIRAH JILANI  

    🌳🍁🕌🕌🕌🍁🌳

■■■■■■■■■■■■■■■■■

PENYAKIT HATI

BAHAYA YANG TIDAK DISEDARI

(Siri 588)

■■■■■■■■■■■■■■■■■


بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲ الرَّحْمَنِ الرحيم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Dosa besar 69:

Tafsir Al-Qur'an dengan

pendapat aqal, nafsu

.... sambungan.....



Berkata Al-Imam Sulton Auliya Shaikh Abdul Qodir Jilani Radhiallahu anhu:

"Dialah yang telah memilihmu, wahai Rasul yang paling sempurna untuk mendukung Risalah-Nya dan untuk menjadi wakil dan Khalifah-Nya.  Dia Menurunkannya sebagai Anugerah dan Nikmat kepadamu dari Hadrat-Nya untuk membenarkan dan menguatkan dirimu berupa Al-Kitab yang mengandungi Mukjizat bagi semua yang menentang dan melawanmu. Sebagai penghormatan bagimu, dan Dia membahagi isinya ke dalam beberapa surah dan ayat-ayat menjadi dalil atas berbagai hal berkait keadaan para hamba di kehidupan dunia dan kehidupan Akhirat.  Demikianlah pokok-pokok isi Al-Qur'an yang wajib diikuti dan dilaksanakan oleh sekalian manusia.  Dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat terkait dengan Ma'rifat dan Haqiqat yang terdiri dari hikmah dan maslahat dalam kewajipan taklif, ketaatan dan ibadah yang dapat menghantarkan manusia kepada Haqiqat dan Ma'rifat, khususnya bagi Ahlul- Azaim as-sahhah yang sentiasa menuju samudera Tauhid. 


Ada pun orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, cenderung untuk menyimpang dari jalan kebenaran yang menghimpun zahir dan batin, maka mereka mengikuti sebahagian ayat mutasyabihat dan meninggalkan perlaksanaan ayat muhkamat, sebagai suatu bentuk kebodohan dan pembangkangan.  Mereka jahil dari mengetahui bahawa pencapaian Ma'rifat dan Haqiqat hanya dapat terwujud dengan membaiki aspek zahir melalui perlaksanaan ayat -ayat muhkamat.  Tindakan mereka mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat seperti itu tidak dimaksudkan melainkan untuk menimbulkan fitnah  di antara manusia dan merosak aqidah mereka dari Tauhid yang benar. 


Mereka mencari-cari ta'wil agar sesuai dengan apa yang diinginkan oleh 'aqal mereka dan nafsu mereka.  Seperti yang dilakukan oleh pembuat bid'ah (72 golongan pembuat bid'ah sesat).  Padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya dengan benar melainkan Allah Ta'ala yang menurunkan kitab itu. Sebab ta'wil bagi Firman-Nya tidak dapat diketahui oleh siapa pun selain Dia, kecuali dengan Taufiq dan Pertolongan-Nya.  Dan orang yang mendalam ilmunya — iaitu Ilmu Ladunni yang di-Perkuat oleh Allah dengan Ilmu dan Wahyu-Nya.  Dan Ma'rifat dan Haqiqat tidak dapat diraih hanya dengan kekuatan zahir, kecuali dengan dokongan dan Jazbah, mereka berkata: "kami beriman kepada-Nya dan meyakini ayat muhkamat dan mutasyaabihaat kerana semua itu turun dari Tuhan kami." 


Dan tidak ada yang mampu mengambil pelajaran darinya melainkan orang yang beraqal, yang diri mereka telah terbentuk dengan inti tauhid dan menolak kulit luar yang menjadi kosekuensi dari kekuatan nafsu yang merupakan bala tentera syaitan dan hawa nafsu yang batil dan pendapat hawa  nafsu yang batil."

[Tafsir Al-Jailani]


Beberapa penegasan penting di dalam Tafsiran Al-Imam Jilani radhiallahu anhu:


(1) Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya berpegang teguh dengan kesemua Perintah Allah ; sama ada yang berupa ayat muhkamat (perintah berkenaan hukum-hakam Syari'at dan mutasyaabihaat (ayat-ayat kesamaran yang lazimnya berkait dengan rahsia-rahsia Haqiqat dan Ma'rifat)


(2) Golongan munafiq dan fasiq hanya berpegang kepada sebahagian ayat Allah sedangkan mereka menolak sebahagian lain.


(3) Golongan yang hanya mengikuti ayat mutasyaabihaat sedangkan mereka menolak untuk amalkan ayat muhkamat golongan pembuat fitnah yang bawa kepada kesesatan.


(4) Golongan yang selamat adalah golongan yang bersih jiwanya, beriman kepada kedua-dua ayat muhkamat dan mutasyaabihaat serta berpegang teguh kepada kesemuanya.


Bersambung siri 589  اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ

=======================

MAJLIS TAZKIRAH JILANI  

    🌳🍁🕌🕌🕌🍁🌳

■■■■■■■■■■■■■■■■■

PENYAKIT HATI

BAHAYA YANG TIDAK DISEDARI

(Siri 587)

■■■■■■■■■■■■■■■■■


بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲ الرَّحْمَنِ الرحيم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Dosa besar 69:

Tafsir Al-Qur'an dengan

pendapat aqal, nafsu

.... sambungan.....




Dalil-Dalil

=========


Dalil 1: Firman Allah:


هُوَ ٱلَّذِيۤ أَنزَلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ في قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَاءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ ٱللَّهُ وَٱلرَّاسِخُونَ فِي ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ ٱلأَلْبَابِ 


"Dialah yang menurunkan kepadamu (wahai Muhammad) Kitab Suci Al-Quran.  Sebahagian besar dari Al-Quran itu ialah ayat-ayat "muhkamat" (yang tetap, tegas dan nyata maknanya serta jelas maksudnya); ayat-ayat muhkamaat itu ialah ibu(atau pokok) isi Al-Quran dan yang lain lagi ialah ayat-ayat "mutasyaabihaat" (yang samar-samar, tidak terang maksudnya).  Oleh sebab itu (timbullah faham yang berlainan menurut kandungan hati masing-masing) adapun orang-orang yang ada dalam hatinya kecenderungan ke arah kesesatan, maka mereka selalu menurut apa yang samar-samar dari Al-Quran untuk mencari fitnah dan mencari-cari takwilnya (memutarkan maksudnya menurut yang disukai nafsu atau pendapat aqalnya).  Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya (maksudnya yang sebenar) melainkan Allah dan orang-orang yang tetap teguh serta mendalam pengetahuannya dalam ilmu-ilmu agama, berkata: ‘Kami beriman kepadanya, semuanya itu datangnya dari sisi Tuhan kami’ Dan tiadalah yang mengambil pelajaran dan peringatan melainkan orang-orang yang mempunyai kefahaman."   

[Aali-Imran (3) : Ayat 7]


Berkata Ibnu Abbas Radhiallahu anhu:

"Dia (Allah) yang menurunkan Al-Qur'an kepada kamu melalui perantaraan Jibril.  Di antara isi kandungan Al-Qur'an ada ayat bersifat muhkamat, iaitu ayat-ayat yang menjelaskan hukum halal dan haram, yang tidak pernah mengalami nasakh (penghapusan hukum).  Inilah dasar bagi Al-Qur'an dan semua Kitab Suci yang hukumnya diamalkan oleh manusia.  Selain itu adalah ayat mutasyaabihaat (ayat kesamaran yang memerlukan Ta'wil), iaitu ayat Qur'an yang difahami secara keliru (dan batil) oleh golongan Yahudi, Riwayat lain mengertikan ayat mutasyaabihaat sebagai ayat yang hukumnya dihapus dan tidak diamalkan lagi.  Orang yang condong kepada kesesatan adalah orang yang ragu-ragu, menentang dan meninggalkan Petunjuk Ilahi, mereka adalah Yahudi seperti Ka'ab bin Asyraf, Huyay bin Akhtab, Jaddi bin Akhtab dan pengikut-pengikut mereka.  Mereka mengikuti sebahagian ayat mutasyaabihaat untuk mencari kekufuran dan kemusyrikan (Musyrik, Syirik) dan setia dengan kesesatan mereka.  Mereka sengaja mencari-cari takwil bagi ayat mutasyaabihaat, iaitu mencari kelemahan Ummat supaya kekuasaan dan kerajaan kembali kepada mereka.  Padahal tidak ada mengetahui takwil melainkan Allah.  Firman Allah berhenti sampai sini.  Kemudian Dia menyambung; "dan orang-orang yang mendalam ilmu Taurat, iaitu Abdullah Ibn Salam dan pengikutnya berkata: “Kami beriman ayat-ayat mutasyaabihaat.  Semuanya itu dari Tuhan kami.  Tidak ada yang mengambil pelajaran darinya melainkan orang yang beraqal bersih seperti Abdullah bin Salam."

[Tafsir Ibnu Abbas]


Bersambung siri 588  اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ

=======================

MAJLIS TAZKIRAH JILANI

    🌳🍁🕌🕌🕌🍁🌳

■■■■■■■■■■■■■■■■■

PENYAKIT HATI

BAHAYA YANG TIDAK DISEDARI

(Siri 586)

■■■■■■■■■■■■■■■■■


بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲ الرَّحْمَنِ الرحيم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Dosa besar 69:

Tafsir Al-Qur'an dengan

pendapat aqal, nafsu

.... sambungan.....




Penjelasan 8:

Pada hayat Rasulullah ﷺ, hanya Baginda yang berikan penjelasan terhadap Al-Qur'an.   Ketika para Sahabat musykil berkenaan sesuatu ayat Al-Qur'an, mereka segera rujuk kepada Rasulullah ﷺ. 


Selepas kewafatan Baginda,  khususnya Khulafa' Ar-Rasyidin dan Sayyidina Ibnu Abbas Ridhwanullah sahaja yang mentafsir dan menta'wil ayat Qur'an. 


Selepas kawafatan para Sahabat, hamba-hamba Allah yang benar-benar layak mentafsir dan menta'wil Al-Qur'an adalah para Imam yang mengambil bai'at dan mempelajari Agama daripada para Sahabat dengan kaedah Talaqqi Musyafahah (menghadap dan menerima ilmu dari lisan Guru).  Merekalah Ulama Taqwa dari kalangan Ahlus Sunnah wal jamaah. 


Melalui tradisi Keilmuan Ahlus Sunnah ini, iaitu Bai'at dan Talaqqi Musyafahah,  Cahaya Islam tetap terpelihara di tangan para Ulama Pewaris Nabi yang muhaqqiq yang benar-benar mewarisi Keilmuan Rasulullah ﷺ sampai Qiamat.  Ulama Tafsir dan Ta'wil yang benar-benar menepati  syarat sebagai Ulama Pewaris Nabi akan tetap wujud di kalangan Ahlus Sunnah.


Penjelasan 9:

Sejarah permulaan penyelewengan di dalam Tafsir dan Ta'wil Al-Qur'an terjadi selepas kewafatan Rasulullah ﷺ.  Berbagai golongan orang Islam yang masih jahil berkenaan Agama mula mentafsir Al-Qur'an menurut pendapat aqal dan nafsu mereka.  Mereka campur adukkan Islam dengan fahaman-fahaman batil dari falsafah, ideologi, doktrin sesat yang mereka kutip daripada ahli pemikir dan ahli Falsafah kafir.  Mereka bukan Ulama mufassir yang layak.  Mereka tidak menepati syarat-syarat sebagai Ulama Tafsir dan Ta'wil.  Tetapi mereka cukup berani mempermainkan Ayat-Ayat Allah. 


Akibat dari pentafsiran batil ini, maka lahirlah berbagai aliran pemikiran dengan tafsiran masing-masing menurut pemikiran aqal, nafsu serta kepentingan puak mereka.  Merekalah kelompok-kelompok batil dan sesat  berjumlah 72 golongan sesat.


Penjelasan 10:

Sekalian Ulama Tafsir dan Ta'wil Al-Qur'an yang benar hanya wujud di dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah.  Setiap Mufassir (Ulama Tafsir) dan Mujtahid (Ulama yang ijtihad hukum-hakam Agama) adalah Mursyid Pewaris Nabi yang Siddiq yang menunjukki jalan lurus kepada manusia. 

Merekalah Ulama Pewaris Nabi yang mendapat Petunjuk Allah dan sentiasa di dalam Pimpinan tangan Ruhaniyyah Rasulullah ﷺ.  


Berkata Al-Imam Sulton Awliya Shaikh Abdul Qodir Jilani Radhiallahu Anhu:

“Orang-orang yang berilmu dan hikmah  (Mursyid, Ahli Sufi, Ahli ma'rifat) adalah hamba Allah yang sejati yang di-Pilih-Nya untuk menerima “Risalah-Risalah dari pengajaran-Nya”.   Allah melimpahkan mereka ilmu dan hikmah dan dengan ilmu hikmah itulah mereka menjadi manusia yang lebih tinggi darjatnya dari manusia lain.  Mereka berhubung dengan Nabi melalui perasaan yang halus dan dengan aqal yang bijaksana.  (Kehalusan Ma’rifat Ilahiyyah atau disebut juga  kasyaf  Ilahiyyah)


Allah memuji mereka yang memiliki ilmu Hikmah dengan Firman-Nya:


ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَـٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٌ۬ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡہُم مُّقۡتَصِدٌ۬ وَمِنۡہُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٲتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٲلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡڪَبِيرُ


 [Tamat nukilan kitab Sirrul-Asrar Fi-ma-Yahtaju Iyahil-Abrar]


Adapun selain Ahlus Sunnah wal Jam'aah, iaitu Ulama dari 72 golongan sesat [khawarij (puak wahhabiyyah), syi'ah (rafidhi), muktazilah, mujassimah, jabariyyah dan lain-lain] adalah pentafsir-pentafsir batil dan sesat.  Mereka mentafsir dan menta'wil ayat Allah menurut  pendapat aqal dan nafsu, maka jadilah mereka sesat dan menyesatkan.  Wal Iyazubillah.


Bersambung siri 587  اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ

=======================

MAJLIS TAZKIRAH JILANI  

   🌳🍁🕌🕌🕌🍁🌳

Sunday, December 15, 2024

■■■■■■■■■■■■■■■■■

PENYAKIT HATI

BAHAYA YANG TIDAK DISEDARI

(Siri 585)

■■■■■■■■■■■■■■■■■


بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲ الرَّحْمَنِ الرحيم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



Dosa besar 69:

Tafsir Al-Qur'an dengan

pendapat aqal, nafsu

.... sambungan.....



Penjelasan

========


Penjelasan 1:

Al-Qur'an adalah Kalam Allah yang Maha Suci, Maha Agung, Maha Sempurna.  Setiap kalimatnya, bahkan setiap hurufnya mengandungi ribuan rahsia, hikmah, petunjuk, pelajaran, pengajaran dan panduan hidup zahir batin bagi sekalian manusia.


Al-Qur'an Kalamullah merupakan Cahaya Ketuhanan yang menerangi seluruh alam, menjadi Petunjuk kepada manusia yang ingin bertaqwa dan kembali kepada Allah di dalam keadaan selamat sejahtera.


Al-Qur'an Kalamullah merupakan Cahaya Ketuhanan yang menjadi penawar dan penyembuh sekalian penyakit zahir dan penyakit batin manusia.


Al-Qur'an Kalam Allah Yang Maha Agung terdiri dari kalimat-kalimat tinggi, rahsia-rahsia Ketuhanan dan kehambaan yang amat halus, rahsia alam yang tersembunyi, yang amat sukar difahami oleh kebanyakan manusia, kecuali sebahagian daripadanya yang  berbentuk peringatan, amaran, hukuman, balasan di dunia mahu pun di Akhirat.


Penjelasan 2:

Oleh kerana Al-Qur'an merupakan Kalam Allah Yang Maha Tinggi, Maha Seni dan Maha Halus sehingga tidak dapat difahami oleh kebanyakan manusia, maka manusia memerlukan mufassir (ahli Tafsir) dan mujtahid (ahli ijtihad yang menerbitkan hukum - hakam) bagi menjelaskan kandungan Al-Qur'an.


Penjelasan 3:

Setiap mufassir (ahli Tafsir) dan mujtahid (ahli ijtihad yang menerbitkan hukum - hakam) wajib menepati syarat-syarat yang benar-benar melayakkan mereka menjadi mufassir dan mujtahid. Mereka adalah "Ulama Pilihan Allah" yang mewarisi Ilmu Nabi ﷺ, zahir dan batin bagi menjelaskan kandungan Al-Qur'an. 


Penjelasan 4:

Pada hakikatnya, tidak ada yang mengetahui Tafsir dan Ta'wil bagi Al-Qur'an melainkan Allah Ta'ala sendiri.  Kemudian Allah Ta'ala Limpahkan beberapa rahsia yang tersimpan di dalam "Diri-Nya" kepada hamba-hamba Pilihan-Nya, iaitu Rasul, Nabi dan Auliya Allah yang mewarisi Cahaya Risalah dan Nubuwwah.  Melalui rahsia-rahsia Ketuhanan dan kehambaan yang Allah Ta'ala curahkan ke dalam diri mereka inilah mereka mampu mengenal haq dan batil. Mereka mampu membezakan Petunjuk Allah dengan bisikan syaitan.  Maka tafsir dan ta'wil mereka benar-benar menurut Petunjuk Allah dan bebas dari pengaruh hawa nafsu atau bisikan syaitan dan jauh dari pengaruh manusia sesat atau pengaruh pemerintah zalim.


Penjelasan 5:

Orang yang belum sampai ke peringkat Ma'rifat, mengenal Allah dengan tahqiq takkan mampu bezakan Petunjuk Allah dengan bisikan syaitan dan bisikan halus nafsu yang seringkali terlihat seperti kebenaran sedangkan ianya batil dan sesat.  Mereka seringkali terbabas kepada menuruti bisikan nafsu atau syaitan atau menurut tuntutan Pemerintah fasiq. 


Penjelasan 6:

Setiap mufassir dan mujtahid  wajib menepati kedua-dua syarat zahir dan syarat batin.  

Syarat zahir 15 syarat. 

Sebahagian daripada syarat tersebut adalah :   

Hafal Qur'an dan mahir di dalam ulumul Qur'an, hafal 500,000 Hadith dan mampu bezakan darjat-darjat Hadith, mahir di dalam 15 lughat Bahasa Arab, mahir dalam ilmu nahwu, saraf, balaghah, mantiq, bayan, badi' dan lain-lain, mahir memahami  Sirah Nabawiyyah — Sirah Rasulullah ﷺ dan  sirah Nabi-Nabi terdahulu. 


Syarat batin adalah : 

Beliau mesti merupakan ahli Ma'rifat yang sudah mengenal Allah dengan Ma'rifat yang tahqiq sehingga setiap "Kalimat Allah" yang ditafsirnya menurut Petunjuk Allah yang tahqiq,  tidak sesekali terbit dari nafsu kehendaknya atau kerana bisikan syaitan atau kehendak manusia. 


Penjelasan 7:

Setiap mufassir dan mujtahid yang benar hanya wujud di dalam Ahlus Sunnah Wal Jamaah,  sedangkan selain Ahlus-Sunnah (72 golongan yang terkeluar dari Ahlus Sunnah)  mentafsirkan Al-Qur'an secara batil kerana mereka menuruti hawa nafsu dan bisikan syaitan. 


Bersambung siri 586  اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ

=======================

MAJLIS TAZKIRAH JILANI

🌳🍁🕌🕌🕌🍁🌳

SIRI 450 KEWAJIPAN AMAL SYARI'AT DAN TORIQAT RASULULLAH  بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲ الرَّحْمَنِ الرحيم اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ...