SIRI 346
KEWAJIPAN AMAL SYARI'AT DAN TORIQAT RASULULLAH
بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲ الرَّحْمَنِ الرحيم
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bab 5: Mursyid Pewaris Nabi yang Siddiq
Fasal 2: Definisi
Definisi Menurut Bahasa
Perkataan Mursyid berasal dari bahasa Arab مُرْشِد - رَشَدَ - يَرْشُدُ (rashada – yarshudu - Mursyid) yang membawa pengertian “memimpin”, “membimbing”, “menunjukki jalan benar, menunjukki jalan lurus, memimpin kepada jalan yang Di-Redhai Allah”.
Definisi Menurut Istilah
Menurut Istilah Syara', Mursyid adalah sebenar-benar Warisatul Anbiya (Pewaris Nabi ﷺ), yang Di-Pilih Khusus oleh Allah Ta’ala bagi mewarisi keseluruhan Agama dari Junjungan Besar Nabi Muhammad ﷺ, meliputi zahir dan batin Baginda menerusi satu rantaian perpindahan Ilmu yang dipanggil Silsilah Rasulullah ﷺ dan Di-Teguhkan kedudukan mereka dengan berbagai Kurnia Allah Ta’ala yang istimewa sehingga mereka mampu menunaikan Amanah Allah atas muka bumi sebagai Khalifah Allah dan Pewaris Junjungan Besar Rasulullah ﷺ. Dalil awal bagi keterangan ini adalah Kalam Allah Yang Maha Tinggi.
Firman Allah:
ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَـٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٌ۬ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡہُم مُّقۡتَصِدٌ۬ وَمِنۡہُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٲتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٲلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡڪَبِيرُ
“Kemudian Kami jadikan Al-Kitab (Al-Quran) itu diwarisi oleh orang-orang yang Kami Pilih dari kalangan hamba-hamba Kami; maka di antara mereka ada yang berlaku zalim kepada dirinya sendiri (dengan tidak mengendahkan ajaran Al-Quran) dan di antaranya ada yang bersikap sederhana dan di antaranya pula ada yang mendahului (orang lain) dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu ialah limpah kurnia yang besar (dari Allah semata-mata)”.
[Faathir (35) : Ayat 32]
Penjelasan Tambahan
Berikut adalah beberapa penjelasan tambahan kepada Definisi Mursyid yang Siddiq.
Penjelasan 1: Tafsiran Al-Imam Sulton Auliya Shaikh Abdul Qodir Jilani Radhiallahu Anhu
Menurut tafsiran Ulama Ahlus Sunnah bagi Firman Allah [Faathir (35) : Ayat 32] yang dimaksudkan dengan “Kitab” adalah Al-Qur’an, dan maksud ayat “yang Kami Pilih dari kalangan hamba-hamba Kami” adalah ditujukan kepada Mursyid yang benar-benar kenal Allah dan telah mencapai Ma’rifat yang tinggi, iaitu mencapai martabat Tauhid yang hakiki. Mereka adalah Pilihan Allah yang khusus bagi memimpin Ummat Islam setelah kewafatan Rasulullah ﷺ.
Berkata Sulton Auliya Imam Jilani Radhiallahu Anhu:
“Orang-orang yang berilmu dan hikmah (Mursyid - Ahli Sufi - Ahli Ma’rifat) adalah hamba Allah yang sejati yang Di-Pilih-Nya untuk menerima “Risalah-Risalah dari pengajaran-Nya”. Allah Ta'ala melimpahkan mereka ilmu dan hikmah dan dengan ilmu hikmah itulah mereka menjadi manusia yang lebih tinggi darjatnya dari manusia lain. Mereka berhubung dengan Nabi melalui perasaan yang halus dan dengan aqal yang bijaksana (Kehalusan Ma’rifat atau disebut juga Kasyaf Ilahiyyah). Allah memuji mereka yang memiliki ilmu Hikmah dengan Firman-Nya:
ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَـٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٌ۬ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡہُم مُّقۡتَصِدٌ۬ وَمِنۡہُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٲتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٲلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡڪَبِيرُ
[Tamat petikan kitab: Sirrul-Asrar Fi-ma-Yahtaju Iyahil-Abrar]
Bersambung siri 347 اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ
___________________________
MAJLIS TAZKIRAH JILANI
🌳🍁🕌🕌🕌🍁🌳
No comments:
Post a Comment